Category Archives: fermentasi

Kefir

Nur Hidayat

Kefir seperti halnya susu fermentasi lainnya sebenarnya dibedakan dari kultyur yang digunakan. Pada kefir ada istilah yang berbeda dengan susu fermentasi lainnya yaitu dikenalnya istilah “grain” Grain merupakan struktur spesifik dan penting pada kefir. Mikroorganisme pada kefir akan tumbuh  membentuk grain-grain baru. Mikroflora pada kefir grain merupakan kompleks mikroorganisme yang tersusun atas Lactobacilli, lactic streptococci, khamir dan bakteri asam asetat.

Khamir dalam kefir memiliki peran sebagai pembentuk flavor dan aroma. Spesies-spesies khamir pada kefir grain diantaranya adalah Kluyveromyces marxianus, Torulaspora delbrueckii, Saccharomyces cerevisiae, Candida kefir, Saccharomyces unisporus, Pichia fermentans dan Yarrowia lypolytica.

 

Spesies dari bakteri laktat strptokkous  homofermentatif mesofilik yang teridentfikasi adalah Lactococcus lactis subsp lactic (Streptococcus lactis) dan spesies termofilik yaitu Streptococcus thermophilus.  Kedua spesies ini medominasi bakteri pada kefir grain ataupun kefir.

Spesies dari lactobacilli yang homofermentatif adalah Lactobacillus delbrueckii subsp. bulgaricus, Lactobacillus helveticus dan Lactobacillus casei subsp. Pseudoplantarum. Laktobacilli yang heterofermentatif adalah Lactobacillus brevis.

 

Kefir juga dipercaya mampu melawan beberapa genus yang bersifat patogenik seperti Salmonella, helicobacter, Shigella, Staphylococcus dan Escherichia coli.  Kefir juga memiliki aktivitas sebagai  anti-inflamasi.

 

Komposisi kefir tergantung pda tipe susu yang digunakan. Selama fermentasi akan terjado perubahan komposisi nutrient akibat dari pertumbuhan bakteri dan khamir yang ada. Jumlah asam yang paling dominan adalah asam laktat yang akan memfermentasi sekitar 25 % dari laktosa yang ada. Selama fermentasi juga terbentuk asam amino seperti valin, leusin dan serin, sedangkan  jumlah alanin dan asam aspratat menunjukkan peningkatan. Asam asetat juga dapat terbentuk selama fermentasi.

Daftar Pustaka

E Simova, D Beshkova, A Angelov, Ts Hristozova, G Frengova and Z Spasov. Lactic acid bacteria and yeasts in kefir grains and kefir made from Them. Journal of Industrial Microbiology & Biotechnology (2002) 28, 1–6.

Edward R. Farnworth. Kefir – a complex probiotic. Food Science and Technology Bulletin: Functional Foods 2 (2005) 1–17

Kamila Leite Rodrigue, Lucelia Rita Gaudino Caputo, Jose Carlos Tavares Carvalho, Joao Evangelista, Jose Maurıcio Schneedorf. Antimicrobial and healing activity of kefir and kefiran extract. International Journal of Antimicrobial Agents 25 (2005) 404–408.

Kecap rendah Garam

Kecap merupakan penyedap makanan yang banyak disukai masyarakat mulai dari yang berpenghasilan rendah hingga tinggi. u Salah satu kendala dalam mengkonsumsi kecap adalah kadar garamnya yang tinggi sehingga menjadi tidak aman bagi penderita darah tinggi.

Mungkinkah kita membuat kecap dengan kadar garam rendah atau bahkan mungkin tanpa garam sama sekali?

jawabnya terletak pada fungsi garam itu sendiri.

apakah garam membantu atau berperan dalam pembentukan aroma dan rasa?

apakah garam berperan dalam aktivitas enzim proteolitik yang dihasilkan jamur saat fermentasi jamur.

Selama fermentasi dalam larutan garam (moromi) ada dua organisme yang berperan yaitu bakteri dan khamir yang tahan pada kadar garam tinggi. organisme lainnya terutama bakteri perusak yg tidak tahan garam akan mati.

jika kadar garam dikurangi maka pada kadar garam 8% masih tumbuh Bacillus. jika kadar garam turun lagi, maka Staphylococcus dan Enterococcus spp akan mampu tumbuh.

oleh sebab itu perlu dilakukan upaya mencegah kedua bakteri ini tumbuh, upaya tersebut antara lain:

  1. gunakan starter bakteri dan khamir pembentuk aroma dan rasa yang tumbuh pada kadar garam rendah
  2. gunakan air yang telah dimasak terlebih dahulu untuk mematikan bakteri yang ada
  3. inkubasikan dalam keadaan aseptis.

apakah itu mudah?

nur hidayat

Jurusan Teknologi Industri Pertanian

Fakultas Teknologi Pertanian

Universitsa Brawijaya

Malang

Belajar dari Fermentasi

Nur Hidayat

Proses fermentasi umumnya melibatkan mikroorganisme satu atau lebih spesies untuk menghasilkan produk yang lebih bermakna dari sebelumnya.  Proses ini seringkali membutuhkan kondisi lingkungan yang spesifik namun acapkali pula pada kondisi ruang dan non steril.

Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan kita. Untuk mengubah sesuatu yang kita hadapi saat ini menjadi sesuatu yang bermakna bagi kehidupan kita kelak. Pengubahan kearah yang lebih baik tidak dapat kita lakukan secara mandiri namun membutuhkan keterlibat pihak lain dan juga lingkungan.

Kebersamaan kita dengan tetangga ataupun saudara menjadi hal yang penting dalam memperbaiki diri dan produk kita. Silaturahmi adalah cara untuk menghasilkan produk yang baik dengan membuat sinergi yang baik.

Kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap kualitas produk akhir kita. Pilihlah lingkungan yang mendukung dan menjadikan produk kita baik dan tidak terkontaminasi. Sayangnya kita seringkali tidak mengatahui kondisi optimal kita. Kita menganggap lingkungan kita saat ini adalah yg terbaik padahal munngkin bukan kondisi yang optimal.

Marilah kita mengenali lingkungan yang baik bagi kita dan teman yang mendukung kita menciptakan produk akhir yang membuat kita dekat dengan Tuhan