Category Archives: abstrak

Peramalan Pemintaan Produk Keripik Tempe CV Aneka Rasa Dengan Metode Jaringan Syaraf Tiruan

 

Peramalan permintaan merupakan tingkat permintaan produk yang diharapkan akan terealisir pada masa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan meramalkan permintaan CV Aneka Rasa menggunakan metode Jaringan Syaraf Tiruan. Jaringan Syaraf Tiruan (JST) merupakan metode peramalan permintaan yang sering digunakan oleh perusahaan agar permintaan konsumen dapat terpenuhi. Pengolahan data untuk metode JST dimulai dengan merancang arsitektur jaringan, penggunaan algoritma pembelajaran Backpropagation, pengujian dan pengolahan data menggunakan software. Penerapan metode JST untuk peramalan permintaan keripik tempe rasa daun jeruk dengan menggunakan algoritma Backpropagation, arsitektur Multi Layer Network menghasilkan arsitektur jaringan terbaik yaitu 2-4-1 (2 neuron input, 4 neuron hidden layer, dan 1 neuron output). Jaringan ini memiliki nilai Mean Square Error (MSE) terkecil sebesar 0,0047651 dengan koefisien korelasi 0,9572 dan gradien sebesar 0,9756 yang artinya output sama dengan target, sedangkan koefisien determinasi sebesar 92,62% artinya bahwa output sudah mampu mewakili target sebesar 92,62%. Hasil peramalan untuk bulan Januari-Desember 2012 yaitu 16.276, 16.425, 16.620, 16.696, 16.809, 16.735, 16.763, 16.855, 16.956, 17.074, 17.189 dan 17.254 kemasan.

Kata Kunci: Peramalan Permintaan, Jaringan Syaraf Tiruan, Keripik Tempe

Download

Function of hINSR mutant against tyrosine kinase precede abnormally on onset diabetes mellitus: in silico study

ICBS 2011

Fatchiyah1,2)

1)Dept of Biology Faculty of Sience, Brawijaya University

2)Central Lab. Of Life Sciences, Brawijaya University

Email: fatchiya@gmail.com

 ABSTRACT

The pathogenesis of NIDDM has been studied in various ethnic groups. It appears that insulin resistance can precede the clinical onset of NIDDM. Mutations of the human insulin receptor gene have been identified in patients with severe insulin resistance, and studies of these naturally occurring mutants may provide important insights into the relationship between structure and function of the receptor. The aim of our research is to characterize genomic and proteomic insulin receptor (hINSR) of Indonesian diabetes mellitus patients. The bloods were collected from normal and DM patients from some public clinics and Saiful Anwar Hospital, Malang. DNA and RNA were isolated from blood, and then sequenced by ABIPrims Sequencer. To find out the genomic hINSR, DNA sequences were analyzed and characterized by in silico analysis, such as alignment by BioEdit & BLAST program from NCBI, and superimposed by Strap JAVA program, 2D- & 3D-structure analysis Swiss Model program. To examine the cytoplasm pathway tyrosine kinase, using docking hINSR-Tyrosine Kinase domain & IRS-1 (PTB domain) analyzed by Hex 5.1. We found specific protein of DM patient from 2D-protein profile and some type mutation of hINSR and can change the INSR 3D-protein structure and the 3D ligand structure of hINSR and insulin completely changed on DM patient. According to our result, we suggested that the hINSR protein mutation of DM patient precede abnormally hINSR function against tyrosine kinase and perhaps correlated with genetic syndrome of insulin resistance. The change function is presumed to inhibit the interaction between hINSR and IRS, makes transduction signals disturbance in the process of absorption of glucose leads to insulin resistance of diabetes mellitus.

 Key words: insulin receptor, diabetes mellitus, genetic syndrome, in silico, tyrosine kinase

BIOMEKANIK MOLEKULER DIFERENSIASI JENIS KELAMIN

Fatchiyah – LSIH UB

Abstrak

Inti pertanyaan dari perkembangan Biologi adalah bagaimana organ primordial yang tidak terdiferensiasi dapat ditransformasi menjadi organ kompleks, terutama pada jaringan tertentu. Proses proliferasi, diferensiasi, migrasi dan kematian sel diregulasi secara tepat oleh jaringan sinyal yang kompleks selama proses diferensiasi. Diferensiasi pada gonad mamalia
terdiri dari berbagai bagian dan fungsi tertentu yang dapat digunakan untuk mempelajari mekanisme dari cell signaling selama perkembangan organ. The gonadal anlage adalah suatu organ primordial yang unik dan perkembangannya diikuti dengan satu atau dua jalur perkembangan yaitu berkembang menjadi testis atau ovarium. Bipotensial dari gonad membuat
gonadal anlage memiliki sistem yang dapat digunakan untuk mempelajari mekanisme takdir sel secara langsung dan peluang untuk menggunakannya sebagai pendekatan komprehensif dari mekanisme lain yang tidak dapat dipelajari secara langsung. Determinasi kelamin pada manusia adalah penentuan perkembangan kelamin menjadi laki-laki atau perempuan. Determinasi kelamin terjadi pada saat bipotential embryonic gonad berkembang menjadi testis atau ovarium.
Proses tersebut dikontrol langsung oleh gen yang ditemukan dari hasil analisis genetik dari pasien sex-reversed dan dikonfirmasi menggunakan penelitian knockout pada mencit. Gen yang memicu rangkaian penentuan testis yaitu SRY (Sex-Determining Region dari kromosom Y) diisolasi dari Yp setelah diteliti selama 25 tahun. Sry memicu rangkaian molekuler dan seluler
yang menyebabkan unisex gonad terdiferensiasi menjadi testis. Mutasi pada SRY telah teridentifikasi sekitar 15-20 % dari 46 kasus XY pada wanita dengan disgenesis gonad secara lengkap ataupun bagian. Pada SRY telah ditemukan lebih dari 30 mutasi dan hampir semuanya tidak seperti yang ada dalam kotak HMG, hal tersebut mengindikasikan fungsi penting dari
penelitian ini. Pasien dengan disgenesis gonad XY lengkap maupun murni memiliki fenotip lengkap dari wanita dengan bilateral streak gonad yang terdiri dari residu-residu embrio seperti disgenetik rete testis, primary seex cord, isolated tubule maupun struktur yang menyerupai tubula. Kadar gen menjadi hal yang penting dalam penentuan kelamin pada laki-laki. Beberapa
gen dapat muncul karena adanya kadar tertentu dari haploinsufficiency (seperti WTI, SOX9, atau SF1i) atau oleh duplikasi (seperti SOX9, DAX1, or Wnt4). Saat ini, counterpart wanita dari gen Sry masih sulit dideteksi. Tidak ada bukti genetis yang membuktikan bahwa kehilangan atau tidak
teraktifkannya gen tertentu dapat mentransformasi ovarium menjadi testis pada individu XX.
Rangkaian sinyal Wnt4 dan follistatin sangat penting untuk perkembangan awal ovarium. Wnt4 dan follistatin mensekresikan molekul yang terekspresikan secara khusus pada gonad XX saat penentuan jenis kelamin. Pada saat Wnt4 atau follistatin tidak teraktifkan, maka striking phenotype akan muncul bersamaan dengan terbentuknya pembuluh darah khusus pada testis di permukaan ovarium embrio. Hal menarik yang terjadi adalah XY male-to-female sex reversal pada sindrom Frasier dapat terjadi dikarenakan mutasi dari pencegahan produksi +KTS isoforms, hal tersebut menyebabkan perubahan rasio isoform pada heterozigot dan mempengaruhi pasien.
Tipe mutasi dari “Frasier” yang sama ditanamkan pada mencit dengan target yang diganggu menjadi tidak dapat menjadi sex reversal pada tikus heterozigot. Hal tersebut memunculkan dugaan bahwa jalur penentuan jenis kelamin pada manusia adalah lebih sensitive terhadap kadar gen dibandingkan pada mencit.