Limbah dan Lingkungan

Limbah telah lama mengitari kehidupan manusia terutama setelah dikenal adanya peradapan menetap di suatu tempat dan membentuk koloni. Kota-kota sejak dulu hingga kini disibukkan dengan problem sampah yang tidak terkonsumsi. Adanya limbah kemudian memunculkan ide beberapa individu ataupun kelompok untuk memanfaatkan bagian limbah menjadi produk-produk tertentu. Hal ini terus berkembang hingga kini.

Secara histories ada hubungan antara limbah dengan kesehatan dan ini juga memacu adanya perubahan pandangan manusia tentang limbah dan cara pengelolaannya. Kajian pada pertenganan abad 19 menunjukkan hubungan antara penumpukan limbah di Sungai Thames dengan insiden epidemi Kholera. Ini terjadi 30 tahun sebelum bakteri kholera diidentifikasi. Penumpukan limbah yang mengakibatkan ganngguan kesehatan ini semakin meningkat dengan adanya revolusi industri sehingga dikembangkan cara pengumpulan sampah,pembersihan jalan dan tempat pembuangan sampah yang jauh dari pemukiman. Pembakaran limbah dikembangkan di Inggris pada tahun 1870an dan dikembangkan ke bidang industri dengan beberapa perbaikan.

Kalau diperhatikan sejarah perkembangan pengelolaan lingkungan industri, maka tahap paling awal yang dilakukan oleh industri adalah membiarkan terbentuknya limbah dan hanya memperhatikan produknya saja. Namun hal ini tidak dapat bertahan lama karena akumulsi limbah menyebabkan berbagai permasalahan internal industri, misalnya estetika, kesehatan dan sebagainya. Maka tahap berikutnya adalah mengupayakan agar limbah tersebut tidak menumpuk di lingkungan industri dan membuangnya ke tempat lain. Biasanya pembuangan limbah ini dilakukan pada saat hujan karena dengan begiu konsentrasi polutan menjadi rendah (mengalami pengenceran) dan limbah segera hilang dari lokasi industri. Meskipun kelihatan seperti yang diharapkan, pengenceran sebenarnya bukan jalan keluar, karena beban limbah total yang diterima oleh lingkungan adalah tetap. Apalagi kalau limbah yang dibuang tersebut bersifat  sulit terdegradasi, maka polutan tersebut tetap saja akan terakumulasi di suatu lokasi dan mencemarinya. Demikianlah pendekatan pasif pengelolaan lingkungan seperti ini tidak memberikan manfaat sama sekali bagi lingkungan.

Buku Mikrobiologi Undustri jadi Rujukan artikel di beberapa Perguruan Tinggi

iseng-iseng aku mencoba membuka http://scholar.google.co.id dan kuketik namaku ternyata banyak hal kudapat misalkan untuk buku Mikrobiologi Industri tertulis ada 19 dan 2 rujukan

Beberapa artikel/skripsi/tesis yng menggunakan buku ini untuk pustaka adalah

  1. Mempelajari pengaruh konsentrasi ragi instan dan waktu fermentasi terhadap pembuatan alcohol dari ampas ubi kayu (skripsi FP USU) – A.G. Pratama.  2010. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/7519/1/10E00261.pdf selain buku Mikrobiologi Industri juga mengmbil dari blog saya http://ptp2007.wordpress.com
  2. Pengaruh Persentase Ragi Tape dan Lama fermentasi terhadap mutu Tape Ubi Jalar (Skripsi FP USU) – K. Smbolon 2008. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/7545/1/09E00208.pdf dan dari blog saya http://bioindustri.blogspot.com
  3. Studi Pembuatan Etanol dari Limbah Gula (molase). R. Simanjuntak. 2009. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15011/1/09E01152.pdf
  4. Analisis kelayakan pendirian industri bioinsektisida bacillus thuringiensis subsp.aizaway di Bogor, Jawa Barat.  2011. Kuncara, Bartolomeus Bagus Praba.   http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/47331
  5. Pengaruh lama Fermentasi terhadap kadar protein, lemak komposisi asam lemak, asam fitat pada pembuatan tempe. Deliani. PascaSarjana. USU 2008.
  6. Pembuatan material Selulosa Kitosan bakteri Dalam Medium Air Kelapa dengan Penambahan Pati dan kitosan menggunakan Acetobacter xylinum. L. Tampubolon. Pascasarjana USU. 2008
  7. Pengendalian Fermentasi dengan pengaturan Konsentrasi Ragi dan lama Fermentasi terhadap Mutu Kopi Secara Mikroenkapsulasi. I.M.L. Tobing. 2009. FP. USU
  8. Pembuatan Bioethanol dari Sari Buah nanas Secara fermentasi. FT Univ. Riau.
  9. DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK UBI JALAR (Ipomosa batatas L). M Andriani, LU Khasanah… – http://jurnal.pdii.lipi.go.id
  10. Pengujian Level Enzim Rennet, Suhu Dan Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Kimia Keju Dari Susu Kerbau Murrah  IL Hutagalung – 2009 – http://repository.usu.ac.id
  11. KANDUNGAN PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR PADA PAKAN BUA TAN YANG DIFERMENTASI DENGAN PROBIOTIK CRUDE PROTEIN AND CRUDE … M Arief, E Kusumaningsih… – http://jurnal.pdii.lipi.go.id
  12. PEMANFAATAN AMPAS SAGU SEBAGAI BAHAN BAKU PRODUKSI PROTEIN SEL TUNGGAL (PST) PN La Teng… – Sumber – http://jurnal.pdii.lipi.go.id
  13. Pemanfaatan Bekatul Fermentasi sebagai Pangan Fungsional dalam Bentuk Bar yang Memiliki Efek Hipokolesterolemik dan Antistress  K Riswanto – 2009 – http://repository.ipb.ac.id
  14. PRODUKSI ASAM LAKTAT DALAM FERMENTASI ANEROB LIMBAH AIR KEDELAI DARI INDUSTRI TEMPE TD Mansyur, I Hernaman, A Budiman, RZ Islami… – http://pustaka.unpad.ac.id
  15. Pengaruh Penambahan Variasi Berat Inokulum Terhadap Kualitas Tempe Biji Durian (Durio zibethinus) I Silvia – 2009 – http://repository.usu.ac.id