Likopen pada Tomat

Likopen adalah senyawa fitokimia dari kelompok karotenoid yang banyak terdapat pada tomat. Likopen merupakan pigmen berwarna kuning, oranye, dan merah yang disintesis oleh tumbuhan. Fungsi utama bagi tumbuhan adalah menyerap cahaya dalam fotosintesis, pelindung tanaman dari fotosensitivitas.
Pada dekade terakhir diyakini likopen memiliki fungsi biologis penting yaitu mengurangi resiko terkena penyakit kronik seperti kanker prostat. Kajian espidemiologi juga menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi produk-produk berbasis tomat dapat dikaitkan dengan pengurangan kanker. Likopen juga dilaporkan mampu menangkap ”singlet oxygen” karena adanya rantai panjang dengan ikatan rangkap terkonjugasi. Likopen memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan karotenoid lainnya seperti lutein dan -karoten yang juga terdapat dalam tomat dalam jumlah kecil.
Dalam tomat segar, yang dominan adalah trans-likopen. Namun demikian, trans-likopen dapat mengalami isomerisasi atau degradasi selama pengolahan pangan yang dapat menurunkan aktivitas biologisnya. Namun demikian, adapula penelitian yang menunjukkan sebaliknya. Isomer cis-likopen lebih larut dalam misel asam empedu. Likopen juga lebih mudah larut dengan adanya lemak dalam diet. Secara teoritis, derajat isomerisasi likopen dalam juice tomat yang dipengaruhi oleh berbabagai perlakuan panas tetaplah tidak diketahui dengan pasti.
Kandungan likopen dalam tomat segar dapat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti varietas, kondisi pertumbuhan dan waktu pemanenan. Kandungan likopen berkisar dari 8 – 50 mg/g. Pada tomat dengan warna merah tua, kandungan likopen dapat mencapai 150 mg/g dan merupakan 85 % lebih dari total karotenoid pada tomat.
Secara kimia, likopen adalah acyclic, polyene simetrik yang mengandung 13 ikatan ganda dengan 12 terkonjugasi. Struktur ini menjadikan likopen sensitif selama pengolahan pangan sebagai hasil perlakuan panas,cahaya, prooksidan dan sebagainya. Dua perubahan utama yang terjadi selama prosesing adalah degradasi dan isomerisasi. Dalam banyak sumber tanaman, semua likopen yang dominan adalah isomerisasi. Z-isomer merupakan yang paling umum dalam pengolahan tomat yang mencakup 5-Z-, 9-Z-, 13-Z- dan 15-Z-likopen. Z-likopen menjadi kajian yang menarik karean memiliki kapasitas antioksidan yang lebih tinggi daripada semua E-likopen begitu juga dengan bioavailabilitasnya.
Kinetika degradasi likopen telah banyak dipelajari dan sebagaian besar menunjukkan model reaksi ordo pertama atau model konversi fraksional. Energi aktivasi yang dilaporkan berkisar dari 18 – 30 kJ/mol tergantung sumber likopen, medium reaksi dan kondisi prosesing. Hanya beberapa studi yang menunjukkan kinetika pembentukan Z-isomer. Hasil studi kinetika tergantung dari kondisi prosesing yang digunakan dan interaksinya dengan komponen pangan lainnya.

Xylitol

Xylitol tidak hanya pemanis bebas gula, tetapi jua memiliki sifat-sifat yang unik sehingga digunakan secara luas dalam bidang farmasi, perawatan kesehatan dan industry pangan. Xylitol digunakan sebagai alternative pemanis pengganti sukrosa bagi penderita diabetes karena nilai kalorinya yang rendah dan mungkinsebagai anti karsinogenik karena mampu menghambat pertumbuhan bakteridi mulut. Xylitol juga digunakan sebagai pemanis pada produk – produk pangan seperti permen,permen karet, soft drink dan produk – produk kesehatan pribadi seperti pencuci mulut dan pasta gigi. Xylitol adalah produk dengan nlai tambah tinggi dan memiliki potensi pasar yang bagus, oleh sebab itu optimasi produksi dan teknologi pemurniannya perlu terus dikaji.

Xylitol dapat diperoleh dengan berbagai teknologi termasuk ekstraksi dari beberapa buah dan sayur seperti strawberry, raspberry, plump dan pear, tetapi jumlahnya yang sangat kecil dalam buah dan sayur menjadikan ekstraksinya sulit dan tidak ekonomis. Secara tradisional, produksi xylitol skala besar komersial adalah secara kimia melalui reduksi D-xylosa dengan adanya katalis nikel pada suhu tinggi. Namun demikian, suhu tinggi (80 – 1400C) dan membutuhkan tekanan (diatas 50 atm) menjadikan prosedur pemurniannya menjadi mahal. Oleh karena itu, produksi xylitol secara fermentasi diharapkan mampu mengurangi biaya produksi.

Metode bioteknologi untuk memperoleh xylitol didasarkan pada fermentasi hidrolisat tongkol jagung. Dibandingkan dengan proses kimia tradisional, biokonversi dari hidrolisat tongkol jagung menjadi xylitol lebih unggul karena prosedurnya lebih sederhana, konsumsi energy dan polusinya rendah. Bioproduksi xylitol daritongkol jagung meliputi tahap – tahap: hidrolisis hemiselulosa, biokonversi xylosa oleh khamir, pemurnian dan kristalisasi xylitol dari hidrolisat yang difermentasi.

Hidrolisis tongkol jagung (perbandingan tongkol jagung dan air adalah 1 : 10) ditambahkan asam sulfat (nisbah asam sulfat dan air adalah 1,5 : 100) dan dipanaskan selama 2 jam pada suhu 1000C. Hidrolisat yang diperoleh (bagian cair) dinetralkan dengan kalsium hidroksida. Setelah pemisahan residu tongkol jagung dan endapan kalsiumsulfat melalui filtrasi, hidrolisat kemudian dipekatkan dengan evaporasi vakum. Akhirnya hidrolisat diperlakukan dengan karbon aktif untuk memisahkan bagian substansi yang berpotensi menghambat biokonversi xylitol menggunakan Candida tropicalis. Setelah fermentasi, larutan yang diperoleh dipekatkan secara vakum.

Perlakuan karbon aktif adalah metode yang efisien dan ekonomis untuk mereduksi cemaran – cemaran pada larutan fermentasi termasuk warna, senyawa – senyawa fenol, asam asetat, senyawa – senyawa aromatic, furfural dan hidroksi metal furfural. Perlakuan resin ion-exchange digunakan untuk mereduksi penghambat – penghambat pada larutan fermentasi seperti garam – garam anorganik, asam asetat, furfural dan hidroksimetilfurfural. Resin anion-exchange digunakan untuk memisahkan senyawa – senyawa warna dari media fermentasi sedangkan resin cation-exchange digunakan untuk desalinasi dan memisahkan seyawa – senyawa organic bermuatan positif.

Setelah proses fermentasi akan dihasilkan 0,8 g xylitol per gram xylosa yang dikonsumsi. Larutan hasil fermentasi berwarna kuning gelap. Selain mengandung xylitol juga terkandung produk samping seperti xylosa, arabinosa, warna dan garam – garam anorganik yang akan mempengaruhi proses kristalisasi.

Produksi Minyak dari Limbah

Limbah minyak biasanya dibuang dengan salah satu dari dua cara yaitu langsung ke sistem pembuangan limbah melalui wastafel atau dibuang bersama-sama dengan sampah. Kedua cara ini pada dasarnya tidak ramah lingkungan karena yang pertama dapat menyumbat saluran pembuangan sedang yang kedua hanya memindahkan ke lingkungan yang lebih luas sehingga menambah beban tempat pembuangan sampah.

Indonesia merupakan salah satu Negara yang banyak mengkonsumsi minyak goring, daging, ikan, sayur dan ayam untuk makanan cepat saji ataupun makanan sehari-hari sehingga menghasilkan limbah minyak yang sangat banyak. Zat hidrofobik seperti limbah sabun, minyak sayur, minyak mentah dan berbagai esterini sebenarnya meruoakab substrat yang baik untuk produksi minyak microbial.

Konversi limbah minyak menjadi produk bernilai ekonomis telah mendorong ide penggunaan khamir penghasil minyak untuk prouksi asam lemak yang bermanfaay. Tiap khamir memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

Cryptococcus curvatus menghasilkan senyawa yang setara lemak kakao, Mortierella alpina dikenal menghasilkan asam arakhidonat dan Mucor circinelloides kaya g-linolenat. Rhossporidium toruloides dikenal sebagai penghasil asam oleat,asam palmitat, asam stearat dan asam lonoleat sedangkan Rhodotorula glutinis menghasilkan triasilgliserol. Khamir berlemak mudah ditumbuhkan pada berbagai limbah pertanian dan limbah industry berlemak. Khamir ini juga dapat ditumbuhkan pada air limbah monosodium glutaman atau gliserol dari limbah biodiesel.

Asam lemak mikroba, khususnya Poli asam lemak tak jenuh (PUFA), dianggap sangat penting dari sudut pandang klinis, mereka membentuk mayoritas asam lemak di jaringan otak, mereka tersedia dalam susu ibu tetapi tidak ada dalam susu sapi dan susu formula yang digunakan sebagai pengganti susu ibu. Pengembangan fungsi saraf dan retina tergantung pada PUFA. Meskipun minyak ikan banyak mengandung PUFA, namun ada kekhawatiran tentang penggunaan minyak ikan sebagai suplemen, terutama untuk bayi, karena terkait masalah polusi lingkungan. Strain khamir tertentu dikenal mampu menghasilkan minyak PUFA, yang dianggap sebagai minyak yang paling sesuai dari sudut pandang ekonomi dan kesehatan.

Media kultur yang digunakan untuk produksi lipid adalah medium basal yang terdiri dari yeast extract, 1.0 g; KH2PO4, 2.4 g; Na2HPO4.12H20, 2.3 g; MgSO4.7H20, 1.0 g; (NH4)2SO4, 4.0 g; larutan trace minerals, 10.0 ml dan larutan FeSO4, 1.0 ml. larutan trace mineral dengan komposisi (grams per liter): CaC12.2H20, 3.6 g; ZnSO4.7H20, 0.75 g; CuSO4.5H20, 0.13 g; CoC12.6H20, 0.13 g; MnSO4.H20, 0.50 g; (NH4)2MO2O7, 0.12 g. larutan FeSO4 mengandung 24g FeSO4.7H2O per liter. Glukosa 30 g/l. Erlenmeyer 500 ml diisi dengan 200 ml medium basal, diinokulasi dengan 107 sel kahmir dan diinkubasi selama 6 hari pada shaker waterbath dengan laju agitasi 125 rpm dan inkubasi 28+ 1 0C.

Sumber:

Heba El Bialy • Ola M. Gomaa • Khaled Shaaban Azab. 2011. Conversion of oil waste to valuable fatty acids using Oleaginous yeast. World J Microbiol Biotechnol 27:2791–2798

Yogurt

Nur Hidayat

Yoghurt adalah produk susu fermentasi berbentuk semi solid yang dihasilkan melalui proses fermentasi susu dengan menggunakan bakteri asam laktat. Melalui perubahan kimiawi yang terjadi selama proses fermentasi dihasilkan suatu produk  yang mempunyai tekstur, flavor dan rasa yang khas selain itu juga mengandung nilai nutrisi yang lebih baik dibandingkan susu segar. Secara tradisional, pada pembuatan yoghurt digunakan kultur starter campuran Lactobacilus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus dengan perbandingan 1:1.

1. Prinsip pembuatan

Teknologi dasar pembuatan yoghurt  meliputi persiapan bahan baku (susu) dan bahan-bahan tambahan lainnya tergantung dari jenis yoghurt,  pasteurisasi, homogenisasi campuran, penambahan kultur, pemeraman dan pengepakan.

 

1.1. Persiapan bahan baku dan bahan tambahan.

Bahan baku susu untuk yoghurt  dapat digunakan susu penuh, susu skim, susu rendah lemak atau dengan penambahan lemak. Bahan baku harus memenuhi persyaratan berikut : jumlah bakteri rendah, tidak mengandung antibiotik, tidak mengandung bahan-bahan sanitiser, bukan kolostrum, tidak terdapat penyimpangan bau dan tidak ada kontaminasi bakteriophage. Bahan-bahan lain yang biasa ditambahkan antara lain : bahan untuk meningkatkan padatan (susu skim, whey, laktosa),  bahan pemanis (glukosa, sukrosa atau aspartam),  stabiliser (gelatin, CMC, alginat, carageenan, whey protein yang dipekatkan, aroma, pewarna dan buah-buahan segar.

1.2. Kultur Starter

Kultur yoghurt mempunyai peranan penting dalam proses asidifikasi dan fermentasi susu. Kualitas hasil akhir yoghurt sangat dipengaruhi oleh komposisi dan preparasi kultur starter.  Komposisi starter harus terdiri bakteri termofilik dan mesofilik , yang umum digunakan adalah Lb. Bulgaricus dengan suhu optimum 42o-45°C dan  Streptococcus thermophilus dengan suhu optimum 38o– 42°C. Perbandingan jumlah starter biasanya 1:1 sampai 2:3. Selama pertumbuhan terjadi simbiosis antara kedua jenis bakteri. S. thermophilus akan berkembang lebih cepat mengawali pembentukan asam laktat melalui fermentasi laktosa, pertumbuhan ini terus berlangsung sampai mencapai pH 5,5. Selain itu juga akan dihasilkan senyawa-senyawa volatil  dan pelepasan oksigen, kondisi ini memberikan lingkungan yang sangat baik untuk pertumbuhan Lb. Bulgaricus.  Aktivitas enzim proteolitik dari Lb. Bulgaricus menyebabkan terurainya protein susu menghasilkan asam-asam amino dan peptide-peptida yang akan menstimulasi pertumbuhan Streptococcus. Lactobacillus juga akan menguraikan lemak menghasilkan asam-asam lemak yang memberikan flavor khas pada produk akhir yoghurt. Jika dikehendaki yoghurt dengan keasaman yang tidak terlalu rendah maka diperlukan komposisi starter yang berbeda, biasanya digunakan Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium bifidum.

1.3. Bahan kering

Standarisasi bahan kering diperlukan untuk memperoleh struktur gel dan konsistensi yang dikehendaki. Penambahan susu skim 3-5% dapat meningkatkan nilai gizi yoghurt dan memperbaiki konsistensi. Penambahan bahan penstabil (misalnya gelatin 0,1-0,3% atau agar atau alginat) dapat meningkatkan konsistensi dan stabilitas produk;  Penambahan sukrosa 4-11% dan buah segar dapat merubah cita-rasa yoghurt sehingga lebih disukai terutama  bagi orang yang kurang menyukai rasa asam. Penambahan buah dapat dilakukan sebelum atau sesudah pasteurisasi.

1.4. Deaerasi

Udara yang terdapat di dalam campuran bahan-bahan yoghurt selama proses pencampuran  biasanya tidak dapat keluar dan dapat mempengaruhi kualitas hasil akhir yoghurt. Oleh karena itu harus dilakukan deaerasi dengan tekanan 0,7-0,8 bar pada suhu 70o-75°C. Deaerasi dapat meningkatkan viskositas dan stabilitas gel yoghurt, juga menghilangkan senyawa-senyawa yang dapat menyebabkan timbulnya aroma dan flavor yang tidak dikehendaki.

1.5. Homogenasi

Homogenisasi campuran bahan-bahan setelah pasteurisasi sangat diperlukan untuk mendapatkan campuran yang betul-betul homogen sehingga tidak dapat terjadi pemisahan cream atau wheying off selama inkubasi dan penyimpanan, juga untuk memperoleh konsistensi yang stabil. Homogenisasi juga dapat meningkatkan partikel-partikel kasein sehingga dapat memperbaiki konsistensi gel selama proses koagulasi.

1.6. Pemanasan

Pasteurisasi dilakukan pada suhu 85°c selama 30 menit atau  95°C selama 10 menit. Tujuan pasteurisasi adalah untuk membunuh mikroba kontaminan baik patogen maupun pembusuk yang terdapat dalam bahan baku sehingga dapat memberikan lingkungan yang steril dan kondusif untuk pertumbuhan kultur starter. Selain itu juga untuk denaturasi dan koagulasi protein whey sehingga dapat meningkatkan viskositas dan tekstur yoghurt.

1.7. Inokulasi dan Fermentasi

Setelah perlakuan pemanasan, susu didinginkan 1o-2°C di atas suhu inkubasi kemudian ditambahkan 1-3% kultur starter. Proses fermentasi merupakan kunci keberhasilan dari produksi yoghurt karena karakteristik produk akhir terbentuk selama proses fermentasi berlangsung.  Pada umumnya fermentasi dilakukan pada suhu 40o-45°C selama 2,5 – 3 jam. Namun suhu dan waktu fermentasi bisa berubah tergantung pada jenis bakteri pada kultur starter yang digunakan. Pada proses fermentasi akan terjadi hidrolisis enzimatis laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Selanjutnya glukosa akan diuraikan melalui beberapa tahap dekomposisi menghasilkan asam laktat. Pada tahap ini belum terjadi perubahan struktur fisik yang nyata pada susu, disebut prefermentasi.  Galaktosa tidak akan digunakan selama glukosa dan laktosa masih tersedia untuk fermentasi. Oleh karena itu, pada produk yoghurt masih terdapat residu galaktosa dan laktosa. Setelah terjadi penurunan pH maka gel mulai terbentuk secara bertahap sampai mencapai titik isoelektrik pada pH 4,65, proses  ini disebut fermentasi utama. Pembentukan gel diikuti dengan perubahan viskositas, pada tahap ini juga dihasilkan flavor. Fermentasi dapat dilakukan dalam kemasan atau pada tangki fermentasi tergantung jenis produk.

1.8. Pendinginan

Pendinginan harus segera dilakukan setelah fermentasi supaya tidak terjadi asidifikasi lanjut. Diusahakan penurunan suhu menjadi 15o-20°C dapat tercapai dalam waktu 1-1,5 jam, pada tahap ini masih terjadi pembentukan flavor. Selanjutnya yoghurt yang sudah jadi disimpan pada suhu 5o-6°C.

2. Yogurt dan fungsi kekebalan

Konsumsi harian yoghurt dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh pada orang dengan sistem pertahanan lemah, laporan sebuah studi baru dari Spanyol. Orang dengan gangguan makan anoreksia nervosa  (AN) yang dikenal memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, karena pola makan yang buruk dan kebiasaan makan yang salah. Menurut temuan baru yang diterbitkan dalam European Journal of Nutrition, konsumsi sehari-hari dari yoghurt yang mengandung Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus selama program ulang-makan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh penderita anoreksia.

Peneliti dari Departemen Metabolisme dan Nutrisi di Instituto del Frio (CSIC) melaporkan bahwa manfaat meningkatkan kekebalan pada produk susu tidak teramati ketika susu diberikan menggantikan yoghurt, pengamatan menunjuk pengaruh strain bakteri dalam yoghurt. “Temuan menunjukkan bahwa dimasukkannya yoghurt dalam terapi pasien AN mungkin memberi efek positif pada penanda imunologis yang berhubungan dengan status gizi pasien,” tulis para peneliti, yang dipimpin oleh Esther Nova. Para peneliti mencatat bahwa yogurt konvensional eksklusif yang difermentasi oleh L. bulgaricus dan S. thermophilus adalah yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Namun, “relatif sedikit kajian yang melihat efek yoghurt konvensional ini, tanpa penambahan strain Lactobacillus atau Bifidobacteria, pada sistem kekebalan tubuh pada manusia”, tambah mereka. Studi baru melibatkan 30 anoreksia dan 33 remaja sehat. Para remaja anoreksia secara acak ditugaskan untuk mengkosumsi yogurt atau susu semi-skim sebagai bagian dari diet  mereka, sementara remaja sehat juga menerima yoghurt atau susu selama 10 minggu.

Para peneliti melihat pada rasio CD4 + limfosit ke CD8 + limfosit, ukuran diagnostik mapan pada fungsi sistem kekebalan. Limfosit adalah sel darah putih yang memainkan peran kunci dalam respon imun, sementara CD4 + dan CD8 + mengacu pada kehadiran reseptor tertentu pada permukaan sel. Rasio yang rendah dari CD4 + ke CD8 + merupakan indikasi dari sistem kekebalan yang tertekan.

Menurut temuan itu, penderita anoreksia yang menerima susu menunjukkan penurunan rsaio CD4 + / CD8 +, yang mengindikasikan melemahnya sistem kekebalan tubuh mereka setelah 10 minggu. Di sisi lain, mereka yang mengonsumsi yogurt tidak menunjukkan penurunan ini. Para peneliti juga melaporkan peningkatan yang signifikan dalam tingkat molekul yang disebut interferon-gamma atau IFN-gamma, penanda penting dari imunitas adaptif dan bawaan, pada kedua kelompok pengkonsumsi yoghurt (remaja anoreksia dan remaja sehat). Yogurt tampaknya menjadi alternatif yang baik untuk mencegah penurunan rasio CD4 + / CD8 +  pasien anoreksia nervosa, yang berarti yoghurt bisa menjadi pilihan makanan sehat untuk dimasukkan dalam terapi pasien ini, “.

Bakteri kokus gram positif (grup 14)

Nur Hidayat

Aerobik: Micrococcus, Staphylococcus, Streptococcus, Leuconostoc

Anaerobik: Methanosarcina, Thiosarcina, Sarcina, Ruminococcus

Genus Micrococcus pertama kali dijelaskan oleh Cohn (1872). Deskripsi genus telah direvisi beberapa kali. Baird-Parker (1965) membagi bakteri  aerobik katalase-positif, kokus Gram-positif ini menjadi dua kelompok. Strain yang memfermentasi glukosa ditempatkan ke dalam kelompok 1 dan digambarkan sebagai anggota dari genus Staphylococcus, sedang yang memanfaatkan glukosa oksidatif, atau tidak sama sekali, ditempatkan dalam kelompok 2 (genus Micrococcus).

Rosypal dkk. (1966) mengusulkan klasifikasi ke dalam kelompok berdasarkan pada kandungan GC DNA genom. Strain dengan kandungan GC dalam kisaran 30,7-36,4% mol digolongkan dalam genus Staphylococcus, sedangkan strain dengan kandungan GC dalam kisaran 66,3-73,3% mol adalah genus Micrococcus. Genus Micrococcus mencakup spesies Micrococcus lylae, Micrococcus kristinae, Micrococcus nishinomiyaensis, Micrococcus sedentarius dan Micrococcus halobius. Kemudian, analisis urutan 16S rDNA dan studi kimia menyebabkan fragmentasi genus Micrococcus dan usulan menjadi empat genera baru – Kocuria, Nesterenkonia, Kytococcus dan Dermacococcus – sementara itu hanya dua spesies, Micrococcus luteus dan M. lylae, yang dianggap mewakili genus Micrococcus. Baru-baru ini, bakteriyang beradaptasi dengan kondisi dingin telah terbukti masuk genus Micrococcus, dan diberi nama Micrococcus antarcticus.

Staphylococcus merupakan Gram positif, non-motil coccus, sering ditemukan dalam kelompok seperti anggur (staphylo). Semua spesies mamalia yang diketahui, termasuk tikus laboratorium, rentan terhadap kolonisasi S. aureus. Karena kemampuannya untuk mengkolonisasi pada berbagai spesies, S. aureus dapat dengan mudah menular dari satu spesies ke yang lain, termasuk dari manusia ke hewan dan sebaliknya.

Streptococcus merupakan bakteri Gram positif, kokus, biasanya dalam bentuk rantaian atau berpasangan, fakultatif anaerob, katalase negative, Mereka dapat diklasifikasikan tergantung pada reaksi hemolisis pada Sheep blood agar.

Spesies – spesies Leuconostoc adalah katalase-negatif, Gram positif dengan morfologi coccoid. Pada tahun 1985, Buu-Hoi dkk. melaporkan kasus pertama infeksi Leuconostoc pada manusia. Sejak itu, Leuconostoc spp. Dianggap terlibat dalam berbagai infeksi, terutama pada pasien yang diobati dengan vankomisin. Namun, spesies ini belum pernah dianggap sebagai agen yang menyebabkan wabah sakit parah yang mengancam kehidupan sejumlah besar orang.

Methanosarcina berbentuk kecil hingga bulat besar terdiri dari banyak unit tidak teratur banyak. Tubuh bulat mungkin ada sebagai (i) bentuk coccoid kecil dengan diameter 1-3 mikrometer, dengan kecenderungan untuk ketidakteraturan, (ii) coccoid lebih besar dengan diameter 5 sampai 10 mikrometer, terjadi dalam kelompok 5 sampai 10 atau lebih, dan ( iii) besar bulat dengan diameter 20 sampai 100 mikrometer atau lebih. Hasil pewarnaan Gram adalah variabel. Nonmotile. Anaerob obligat. Metabolisme energi dengan pembentukan metana dari asetat, metanol, mono-, di-, dan trimethylamines, H2-C02, dan mungkin CO suhu pertumbuhan berkisar 25 – 45°C dan 35 – 55°C. Suhu pertumbuhan optimal 37°C untuk mesophiles dan 50°C untuk thermophiles moderat.

Sarcina lutea, merupakan bakteri nonmotile, gram positif, aerob (fakultatif anaerobik), Micrococcus penghasil pigmen, dapat ditemukan di udara, tanah, dan air di seluruh bumi. Bakteri ini sensitive terhadap penisilin. Koloni berwarna kuning.