Pelatihan Pengenalan SNI ISO/IEC 17025:2008

Gelombang I : 4 Maret 2010
Gelombang II : 3 Juni 2010
Gelombang III : 30 September 2010


TUJUAN

Pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan persyaratan sistem manajemen mutu laboratorium SNI ISO/IEC 17025:2008 (versi baru). Pelatihan ini mencakup unsur-unsur sistem manajemen laboratorium yang efektif yang dapat diintegrasikan dengan persyaratan manajemen mutu, guna membantu laboratorium dalam menjaga mutu hasil uji dan pelayanan yang baik terhadap pelanggan.

MANFAAT

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta diharapkan mengenal/mengetahui persyaratan sistem manajemen laboratorium dan manfaat penerapannya terhadap laboratorium penguji atau kalibrasi.

MATERI YANG DIBAHAS

  • Kebijakan Standardisasi/SSN (Sistem Standardisasi Nasional)
  • Pengenalan SNI ISO/IEC 17025:2008

WAKTU
Pelatihan dilaksanakan selama 1 hari.

METODE
Pelaksanaan pelatihan dilakukan melalui kuliah dan diskusi.

PESERTA

  • Peserta terdiri dari masyarakat luas (umum), manajer puncak, manajer mutu/teknis laboratorium, atau pihak yang berkepentingan di bidang laboratorium penguji atau kalibrasi dan pihak yang berkepentingan dengan laboratorium
  • Peserta berjumlah 30 orang

BIAYA*

Reguler :Rp 500.000,-/peserta
In-house :Rp 8.000.000,-/paket

* (tidak termasuk pajak, transportasi dan akomodasi; berdasarkan PP 62 Tahun 2007 atau bisa diakses di web bsn)

BROSUR dan PENDAFTARAN
download brosur dan form pendaftaran
Informasi Lebih Lanjut
Bidang Diklat Standardisasi
Telp. 021-574703/44 Ext. 270
email: diklat@bsn.go.id

Life special

How did life begin? What endowed the primordial soup of molecules with the property we know as life? Scientists at the Georgia Institute of Technology have discovered that small molecules could have nurtured the building blocks of life’s genetic material so that they could grow into the long chains required for information storage and duplication. “Our hypothesis is that before there were protein enzymes to make DNA and RNA, there were small molecules present on the pre-biotic Earth that helped make these polymers by promoting molecular self-assembly,” says GATech’s Nicholas Hud. Hud calls these unselfish molecules “molecular midwives” because they helped give birth to the organized and self-replicating chemicals from which life is thought to have emerged.
The Alchemist – March 2010

Karyotiping ( 2 hari )/ 4 hari

1.DESKRIPSI WORKSHOP

Kegiatan fokus pada persiapan pembuatan slide preparat kromosome dari sel darah perifer dengan sample manusia dan hewan. (hand on)

Pemotretan dan Analisis kromosome (kartotiping) dengan software (hand on)

Analysis kromosom dengan (Cytovision) : Bormal dan abnormalitas genetik/kromsom (demo)/hand on

2. Biaya worshop:

Jumlah peserta maksimal 4 orang () per kelompok/group . Biaya meengacu ke biaya kursus di leaflet.

Biaya per peserta 3 juta (dibandingkan eikjman /wijaya kusuma 5 juta), harga promosi ?

3. Persyaratan Peserta:

– Peserta adalah pendidikan sarjana S1 bidang ilmu hayati (biologi, kedokteran hewan, kedokteran,peternakan) atay ilmu terkait dengan bidang biologi seluler dan teknlogi reproduksi.

-praktisi yang mendalami dan tertarik pada ilmu genetika

– Laboran yang telah berpengalaman dalam melakukan kultur sel

4. Tanggal Kegiatan:

– Menyesuaikan (lebih baik akhir mingu) pada bulan Juli Agustus ( Rabu -Kamis-Jumat Sabtu)

5. Pemateri dan Teknisi

– Dr Gatot Ciptadi

-Dr Fatciyah/?

-Heli Nurul Karima

-Anton.

Kultur Sel Endotel (HUVECs) dan Penggunaannya Dalam Penelitian

PENDAHULUAN

Sel endotel pembuluh darah merupakan satu lapis sel yang terletak diantara aliran darah dan jaringan. Selain sebagai barier terhadap difusi makromolekul ke jaringan, sel endotel pembuluh darah juga mempunyai fungsi lain, seperti pengaturan tonus otot polos pembuluh darah, haemostasis dan koagulasi, pertahanan tubuh dan angiogenesis. Dengan adanya disfungsi endotel akibat beberapa kondisi seperti diabetes, dan penyakit jantung akan berdampak pada timbulnya penyulit penyakit tersebut, seperti mikro angiopati, iskemia, gagal ginjal dsb nya.

Dalam mempelajari peran sel endotel (struktur dan fungsi) pada patomekanisme penyakit atau mengembangkan obat yang bertarget pada sel endotel, dapat digunakan penelitian in vivo menggunkan hewan coba atau manusia dan atau in vitro menggunakan kultur sel. Ada dua sumber sel yang dapat dipergunakan dalam pembuatan kultur sel endotel yaitu sel binatang dan sel manusia. Pemilihan sumber sel endotel tergantung pada tujuan penelitian dan ketersediaan sel. Untuk kultur sel endotel pembuluh darah yang berasal dari sel manusia yang lazim digunakan berasal dari vena umbilikal.

TUJUAN

1. Mengenalkan dan meningkatkan kemampuan dalam teknik kultur sel

2. Mengenalkan teknik kultur sel endotel manusia/HUVECs

3. Memahami berbagai kegunaan kultur sel endotel pada penelitian

PESERTA

1. Mahasiswa S1, S2 dan S3

2. Dosen/ peneliti di lingkungan Universitas Brawijaya dan di luar Universitas Brawijaya.

Jumlah Peserta maksimal 10 orang/ hari (dibagi dalam 2 kelompok kecil). Apabila peserta lebih dari 10 orang maka workshop dapat dilakukan selama 2 hari

WAKTU PELAKSANAAN

Tanggal : ………………… (10 orang satu hari)

Jam : 08.00 – 17.00 BBWI

Tempat : Laboratorium Sentral Ilmu Hayati UB

MANIPULASI DAN KULTUR SEL OOSIT ( 4 HARI)

1.DESKRIPSI WORKSHOP

Kegiatan utama adalah preparasi dan pelaksanaan kutur sel oosit (resipien) dan kutur isolasi sel donor (sel somatik). Target kegiatan adalah pelatihan produksi sel embrio (rekonstruksi) dengan manipulasi/mentransfer sel somatik ke dalam sel resioien serta aktivasi sel. Kegiatan utama adalah:

– kultur IVM oosit (hand on)

Isolasi sel donor (hand on)

Preparasi (demostrasi dan hand on ) pembuatan mikropipet)

Setting mikromanipulator (dddemo)

Teknik injeksi (demo )

2. Biaya worshop:

Jumlah peserta maksimal 4 orang () per kelompok. Biaya meengacu ke biaya kursus di leaflet.

3. Persyaratan Peserta:

Peserta adalah sarjana S1 bidang ilmu hayati (biologi, kedokteran hewan, kedokteran,peternakan) atau ilmu terkait dengan bidang biologi seluler dan teknlogi reproduksi.

Laboran yang telah berpengalaman dalam melakukan kultur sel hewan/somatik

4. Tanggal Kegiatan:

– Menyesuaikan (lebih baik akhir minggu) pada bulan Juli Agustus ( Rabu -Kamis-Jumat Sabtu)

5. Pemateri dan Teknisi

– Dr Gatot Ciptadi

-Dr Sri Rahayu

-Heli Nurul Karima

-Setyawati/Ifa.

DNA Sequencing and Homologous Expression of a Small Peptide Conferring Immunity to Gassericin A, a Circular Bacteriocin Produced by Lactobacillus gasseri LA39

Yasushi Kawai, Joni Kusnadi, Rober Kemperman, Jan Kok,  Yoshiyuki Ito,  Mikiko Endo, Kensuke Arakawa, Hideaki Uchida, Junko Nishimura, Haruki Kitazawa, and Tadao Saito

APPLIED AND ENVIRONMENTAL MICROBIOLOGY, Mar. 2009, Vol. 75, No. 5  p. 1324–1330

Abstrack

Gassericin A, produced by Lactobacillus gasseri LA39, is a hydrophobic circular bacteriocin. The DNA region surrounding the gassericin A structural gene, gaaA, was sequenced, and seven open reading frames (ORFs) of 3.5 kbp (gaaBCADITE) were found with possible functions in gassericin A production, secretion, and immunity. The deduced products of the five consecutive ORFs gaaADITE have homology to those of genes involved in butyrivibriocin AR10 production, although the genetic arrangements are different in the two circular bacteriocin genes. GaaI is a small, positively charged hydrophobic peptide of 53 amino acids containing a putative transmembrane segment. Heterologous expression and homologous expression of GaaI in Lactococcus lactis subsp. cremoris MG1363 and L. gasseri JCM1131T, respectively, were studied. GaaI-expressing strains exhibited at least sevenfold-higher resistance to gassericin A than corresponding control strains, indicating that gaaI encodes an immunity peptide for gassericin A. Comparison of GaaI to peptides with similar characteristics found in the circular bacteriocin gene loci is discussed.